This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Selasa, 12 Juli 2011
KONSEP PENGEMBANGAN PEMBIASAAN di TAMAN KANAK KANAK
Pembiasaan (habituation) merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang. Sikap atau perilaku yang menjadi kebiasaan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Perilaku tersebut relatif menetap.
b. Pembiasaan umumnya tidak memerlukan fungsi berpikir yang cukup tinggi, misalnya untuk dapat mengucapkan salam cukup fungsi berpikir berupa mengingat atau meniru saja.
c. Kebiasaan bukan sebagai hasil dari proses kematangan, tetapi sebagai akibat atau hasil pengalaman atau belajar.
d. Perilaku tersebut tampil secara berulang-ulang sebagai respons terhadap stimulus yang sama.
Untuk menanamkan pembiasaan terhadap anak usia Taman Kanak-kanak, yaitu usia 4-6 tahun bersifat fleksibel, dan dapat dilaksanakan secara rutin, spontan dan terprogram.
A. Metode Pembelajaran Perilaku melalui Pembiasaan
Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dalam rangka mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak di dalam melakukan pengembangan perilaku melalui pembiasaan sejak dini, menurut Campbell dan Campbell dapat dilakukan dengan berbagai metode sebagai berikut.
1. Pengubahan Perilaku (behavior modification)
Metode ini merupakan suatu pengubahan perilaku yang berdasarkan atas prinsip-prinsip ‘penguatan’ (reinforcement). Metode ini biasanya berhasil untuk mengubah/mengurangi perilaku yang berlebihan dan membentuk perilaku yang belum ada pada individu.
2. Pembelajaran (Instructional Technique)
Metode ini dilakukan dengan memberikan instruksi yang spesifik dan konkret tentang perilaku yang dikehendaki. Instruksi-instruksi tersebut berfungsi untuk mengkoreksi yang salah dan mengajarkan perilaku baru.
3. Berbasis Hubungan (Relationship-based)
Metode ini dilakukan untuk membantu menciptakan suasana yang mendukung untuk dapat terjadi proses belajar. Metode ini bertujuan mempertahankan hubungan antara guru sebagai pelatih dengan anak dalam belajar terstruktur agar terjadi proses belajar yang efektif. Biasanya dapat digabungkan dengan metode pertama dan kedua. Untuk mempertahankan hubungan antara guru dengan anak, antara lain dengan cara:
a. Dorongan empati dengan cara mendengarkan kesulitan-kesulitan anak dalam mengikuti belajar terstruktur, menghargai usaha anak, mendorong keterlibatan anak, dan sebagainya.
b. Identifikasi masalah anak, yaitu mengenali apa yang menjadi hambatan anak.
c. Mengurangi rasa keterancaman pada anak dalam situasi belajar terstruktur, antara lain menciptakan rasa aman, dengan kata-kata atau perilaku dan menyederhanakan prosedur.
4. Penguatan Kelompok (Group Reinforcement)
Penguatan kelompok merupakan referensi yang diberikan oleh kelompoknya (peer). khususnya pada remaja. Jenis referensi ini penting karena mereka sangat mengacu kepada kelompok sebaya (peers). Metode ini pada umumnya digunakan untuk menjelaskan kepada anak yang ikut belajar terstruktur tentang apa yang hendak dicapai. Cara pembelajaran ulang (reinstructional) dapat dipakai pula untuk memperjelas perilaku apa yang akan dibentuk.
Penguatan Kelompok dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, yaitu:
a. Pemodelan (Modelling), yaitu memberikan contoh perilaku apa yang diharapkan atau dengan perkataan lain belajar melalui imitasi.
b. Bermain Peran (Role Playing) sering dilakukan segera setelah modelling, supaya jelas dan tidak terjadi kesalahan persepsi. Bermain peran dilakukan dengan menciptakan suatu situasi dimana individu diminta untuk melakukan suatu peran tertentu (yang biasanya bukan peran dirinya) di suatu tempat yang tidak biasanya peran tersebut terjadi. Manfaat dari role playing adalah membantu seseorang mengubah sikap atau perilaku dari yang selama ini dilakukan
c. Simulasi (Simulation) adalah kegiatan yang dilakukan untuk meng-gambarkan suatu situasi atau perilaku yang sebenarnya.
d. Balikan Penampilan (Performance Feedback) adalah informasi yang menggambarkan seberapa jauh hasil yang diperoleh dari role playing. Bentuknya dapat berupa reward, reinforcement, kritik dan dorongan.
e. Alih Keterampilan (Transfers of Training).
Agar penguatan berlangsung efektif, perlu memperhatikan hal hal sebagai berikut:
a. Penguatan yang mana yang paling cocok dengan karakter masing-masing individu. Misalnya: material penguatan dapat berupa benda-benda seperti permen, uang, dan sebagainya.
b. Penguatan sosial (social reriforcement), seperti: pujian, penerimaan, dan sebagainya.
c. Penguatan sendiri (self reinforcement), yaitu evaluasi yang positif dari individu atas perilakunya sendiri. Misalnya rasa puas atas prestasi diri sendiri
B. Dimensi Pengembangan Perilaku pada Anak
Ada beberapa dimensi pengembangan perilaku pada anak, yaitu:
1. Pengembangan Perilaku Moral
Perilaku moral dapat diartikan cara pikir atau cara pandang seseorang yang akan tercermin dalam pola pikir dan pola tindak seperti dalam bersikap,berbicara atau mempersepsikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dimana anak berada.
Pengembangan perilaku moral dipengaruhi oleh:
a. Keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak.
b. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan sopan santun juga tentang aturan-aturan yang berlaku.
c. Masyarakat mempengaruhi dalam pembentukan kepribadian anak melalui cara pandang dan perlakuan terhadap anak.
Penanaman sopan santun, tata krama dan budi pekerti yang paling baik dan efektif dilakukan sedini mungkin sebab perwujudan dari jiwa yang telah berisi nilai moral akan berkembang bersama nilai-nilai lain yang akan dijadikan nilai sebagai pedoman dalam perilaku keseharian.
Pembelajaran Perilaku Moral dapat dilakukan, antara lain melalui:
a. Mulai dari hal-hal yang konkret
Pada mulanya pemahaman tentang nilai agama dan ketuhanan diperoleh melalui benda-benda konkret, karena anak belum dapat memahami konsep abstrak seperti Tuhan ada tetapi tidak terlihat olehnya. Untuk itu perlu bimbingan dari orangtua mulai dari kejadian yang langsung dapat dirasakannya, misalnya melalui cerita tentang hujan.
b. Ciptakan kesenangan
Sebaiknya jangan ada paksaan bagi anak dalam mempelajari perilaku keagamaan, sebab segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan berdampak positif. Sebaliknya, ciptakan kesenangan, suasana menarik setiap kali anak menjalankan berbagai ritual keagamaan. Misalnya, mengajak anak sholat bersama-sama, pergi ke sekolah minggu di gereja, berdoa sebelum makan dan tidur.
c. Pendidikan, pelatihan dan pembimbingan
Pembelajaran perilaku moral melalui pendidikan, pelatihan dan pembimbing-an dapat dilakukan melalui:
Keteladanan
Anak amat peka terhadap apa yang dia lihat, dengar dan rasakan di sekelilingnya, karena pada hakikatnya anak adalah manusia kecil yang senang meniru. Pendidik dan orang dewasa disekitar anak adalah contoh terbaik dalam pandangan anak, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya.
Adat kebiasaan
Kebiasaan yang dilakukan oleh pendidik merupakan hal yang sangat manjur bagi munculnya perilaku yang sama pada anak.
Nasihat
Nasehat dengan kata-kata yang lemah lembut dan penuh kasih sayang akan sangat mempengaruhi sikap anak yang cenderung menolak keingingan orangtuanya
Pemberian perhatian
Perhatian adalah suatu cara untuk mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan sikap beragama. Sebagai contoh perhatian terhadap kata-kata yang digunakan anak saat membalas salam, cara berpakaian yang sopan ataupun melarang ucapan yang berbohong.
2. Pengembangan Sikap dan Perilaku Beragama/Spiritual
Perilaku Sikap Beragama ditunjukkan oleh anak untuk dapat melakukan kebaikan atau menghindarkan pada keburukan sehingga anak kelak mampu memilih jalan yang dapat mengantarkannya kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia.
a. Tahapan Perkembangan Sikap dan Perilaku Beragama
Perkembangan sikap dan perilaku beragama anak melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
1) Tingkatan dongeng (The Fairy Tale Stage)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Penghayatan untuk konsep ke-Tuhanan berkembang sesuai dongeng tingkat perkembangan intelektualnya, artinya anak menanggapi agama masih menggunakan konsep fantasi yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
2) Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 7-15/16 tahun atau sejak anak masuk SD sampai usia remaja akhir (Adolesense). Pada tingkat ini ide anak tentang ke-Tuhanan sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada tingkatan (realis). Konsep tentang ke-Tuhanan muncul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pembelajaran ajaran dari orang dewasa lainnya.
3) Tingkat Individu (The Individual Stage)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan yaitu:
(1) Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
(2) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perseorangan).
(3) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti ideas concept on outhority (ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius), artinya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.
b. Bentuk dan sikap beragama pada anak
1) Tidak Mendalam (Unreflective)
Anak menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia. Ajaran agama mereka terima begitu saja tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima cukup sekedarnya saja, tidak perlu mendalam. Seringkali anak sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian ada beberapa anak yang memiliki ketajaman pikiran untuk mempertanyakan apa yang diajarkan pada mereka.
2) Egosentris
Konsep keagamaan dipandang dari kesenangan pribadinya, misalnya anak senang pergi ke rumah ibadah dengan orangtuanya karena sepulang dari sana biasanya orangtuanya mengajak mereka ke toko atau ke warung untuk membeli sesuatu yang anak sukai.
3) Anthromorphis
Melalui konsep-konsep yang terbentuk dalam pikiran dan daya fantasi anak, seringkali mereka menganggap bahwa perilaku dan keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Sebagai contoh, konsep tentang Tuhan itu maha melihat dimaknai oleh anak bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung ke rumah-rumah mereka layaknya orang mengintai.
4) Verbalis dan Ritualis
Kehidupan beragama pada anak sebagian besar terjadi melalui ungkapan verbal (ucapan). Mereka menghafal doa dan atau kalimat puji-pujian melalui ucapannya. Praktek keagamaan yang bersifat ritualis seperti sholat bersama keluarga di rumah merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan sikap beragama pada anak.
5) Imitatif
Sebagai peniru yang ulung anak mampu mewujudkan tingkah laku keagamaan (religius behaviour). Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak. Anak akan meniru semua perilaku keagamaan baik yang mereka dengar, lihat, rasakan dan lakukan oleh orang dewasa.
3. Pengembangan Perilaku Disiplin
Perilaku disiplin adalah kemampuan seorang anak untuk menyeimbangkan antara pola pikir & pola tindakan dikarenakan adanya situasi dan kondisi tertentu dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh lingkungan dimana individu berada.
Tujuan perilaku disiplin pada anak:
a. Secara umum: membentuk perilaku sedemikian hingga akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya atau tempat individu itu diidentifikasi.
b. Jangka pendek: Membuat anak terlatih dan terkontrol perilakunya dengan membelajarkan pada anak tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang masih baru / asing bagi mereka.
c. Jangka panjang: melatih pengendalian diri sendiri (self control and self direction) yaitu dalam hal mana anak-anak dapat mengendalikan diri sendiri tanpa terpengaruh dan pengendalian dari luar.
Beberapa alasan kedisiplinan perlu diterapkan pada anak, yaitu:
a. Mengontrol tingkah laku anak (mengatur diri sendiri).
b. Menjaga anak dari bahaya baik bagi dirinya ataupun orang lain.
c. Menghindarkan diri anak dari kesalahan pahaman.
d. Membuat anak disenangi karena dapat berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat dimana anak berada.
e. Menyadarkan anak anak bahwa ia mampu menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri dan diharuskan melakukan apa yang kita tentukan.
f. Melalui disiplin anak belajar bertingkah laku yang menimbulkan pujian, ia akan melihat ini sebagai indikasi dari cinta dan penerimaan .
g. Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani atau suara-suara halus didalam diri yang membantunya dalam membuat keputusan dan mengendalikan tingkah laku.
Penanaman disiplin mulai diterapkan pada anak
a. Sejak anak dilahirkan, melalui pembiasaan pemberian susu.
b. Disaat anak mulai mengenal lingkungan rumah dan sekitarnya.
Bentuk pendisiplinan pada anak TK
a. Disiplin pergi sekolah.
b. Disiplin di sekolah.
c. Disiplin merapikan mainan.
d. Disiplin memakai pakaian & sepatu.
e. Disiplin bangun tidur.
f. Disiplin waktu makan bersama.
4. Pengembangan Perilaku Emosional
Perilaku emosional merupakan bagian dari kecerdasan emosional yang melibatkan perasaaan dan emosi baik pada diri sendiri dan pada orang lain. Perilaku emosional ditunjukkan dengan kemampuan untuk memahami diri dan orang lain, mengungkapkan perasaan, mengendalikan amarah, sampai berempati pada orang lain.
Pentingnya pengembangan perilaku emosional, bagi anak usia TK
a. Sebagai bekal untuk mengatasi setiap persoalan yang penting dalam kehidupan.
b. Kecerdasan emosional perlu diajarkan di TK supaya anak-anak mempunyai peluang untuk memperoleh keterampilan yang akan membantu mereka menjadi lebih kebal terhadap tekanan-tekanan (depresi) dan atau gangguan emosional lainnya. Sampai akhirnya anak mampu mengendalikan dan mengelola emosinya secara baik.
Kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional:
a. Kemampuan mengenali emosi diri.
b. Kemampuan mengelola emosi.
c. Kemampuan motivasi diri.
d. Kemampuan mengenali emosi orang lain.
e. Kemampuan membina hubungan.
Pembentukan Kecerdasan emosional:
a. Emosi terbentuk selama proses pengasuhan.
b. Pengalaman awal seorang anak akan menjadi dasar bagi pengembangan emosional sepanjang hidupnya.
Ciri perilaku emosional pada anak TK, antara lain:
a. Lebih mudah bergaul.
b. Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa.
c. Mampu menahan tangis dan kecewa.
d. Menunjukkan rasa saying.
e. Minta di ceritakan dongeng dan di dendangkan lagu.
f. Mulai melatih kemandirian.
g. Mengenal sopan santun.
h. Antusias saat belajar.
i. Sabar menunggu giliran.
Nilai-nilai yang terdapat dalam emosi anak, antara lain:
• Kemarahan
• Malu
• Kesedihan
• Gembira
• Afeksi (kasih sayang)
• Takut
• Cemburu
• Anxiety (cemas)
• Empati
• Stress
Sumber :Depdiknas, Dirjen manajemen Pendidijan dasar dan menengah, Dir Pembinaan TK dan SD 2007
Disajikan oleh Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) di 19:13
a. Perilaku tersebut relatif menetap.
b. Pembiasaan umumnya tidak memerlukan fungsi berpikir yang cukup tinggi, misalnya untuk dapat mengucapkan salam cukup fungsi berpikir berupa mengingat atau meniru saja.
c. Kebiasaan bukan sebagai hasil dari proses kematangan, tetapi sebagai akibat atau hasil pengalaman atau belajar.
d. Perilaku tersebut tampil secara berulang-ulang sebagai respons terhadap stimulus yang sama.
Untuk menanamkan pembiasaan terhadap anak usia Taman Kanak-kanak, yaitu usia 4-6 tahun bersifat fleksibel, dan dapat dilaksanakan secara rutin, spontan dan terprogram.
A. Metode Pembelajaran Perilaku melalui Pembiasaan
Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dalam rangka mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak di dalam melakukan pengembangan perilaku melalui pembiasaan sejak dini, menurut Campbell dan Campbell dapat dilakukan dengan berbagai metode sebagai berikut.
1. Pengubahan Perilaku (behavior modification)
Metode ini merupakan suatu pengubahan perilaku yang berdasarkan atas prinsip-prinsip ‘penguatan’ (reinforcement). Metode ini biasanya berhasil untuk mengubah/mengurangi perilaku yang berlebihan dan membentuk perilaku yang belum ada pada individu.
2. Pembelajaran (Instructional Technique)
Metode ini dilakukan dengan memberikan instruksi yang spesifik dan konkret tentang perilaku yang dikehendaki. Instruksi-instruksi tersebut berfungsi untuk mengkoreksi yang salah dan mengajarkan perilaku baru.
3. Berbasis Hubungan (Relationship-based)
Metode ini dilakukan untuk membantu menciptakan suasana yang mendukung untuk dapat terjadi proses belajar. Metode ini bertujuan mempertahankan hubungan antara guru sebagai pelatih dengan anak dalam belajar terstruktur agar terjadi proses belajar yang efektif. Biasanya dapat digabungkan dengan metode pertama dan kedua. Untuk mempertahankan hubungan antara guru dengan anak, antara lain dengan cara:
a. Dorongan empati dengan cara mendengarkan kesulitan-kesulitan anak dalam mengikuti belajar terstruktur, menghargai usaha anak, mendorong keterlibatan anak, dan sebagainya.
b. Identifikasi masalah anak, yaitu mengenali apa yang menjadi hambatan anak.
c. Mengurangi rasa keterancaman pada anak dalam situasi belajar terstruktur, antara lain menciptakan rasa aman, dengan kata-kata atau perilaku dan menyederhanakan prosedur.
4. Penguatan Kelompok (Group Reinforcement)
Penguatan kelompok merupakan referensi yang diberikan oleh kelompoknya (peer). khususnya pada remaja. Jenis referensi ini penting karena mereka sangat mengacu kepada kelompok sebaya (peers). Metode ini pada umumnya digunakan untuk menjelaskan kepada anak yang ikut belajar terstruktur tentang apa yang hendak dicapai. Cara pembelajaran ulang (reinstructional) dapat dipakai pula untuk memperjelas perilaku apa yang akan dibentuk.
Penguatan Kelompok dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, yaitu:
a. Pemodelan (Modelling), yaitu memberikan contoh perilaku apa yang diharapkan atau dengan perkataan lain belajar melalui imitasi.
b. Bermain Peran (Role Playing) sering dilakukan segera setelah modelling, supaya jelas dan tidak terjadi kesalahan persepsi. Bermain peran dilakukan dengan menciptakan suatu situasi dimana individu diminta untuk melakukan suatu peran tertentu (yang biasanya bukan peran dirinya) di suatu tempat yang tidak biasanya peran tersebut terjadi. Manfaat dari role playing adalah membantu seseorang mengubah sikap atau perilaku dari yang selama ini dilakukan
c. Simulasi (Simulation) adalah kegiatan yang dilakukan untuk meng-gambarkan suatu situasi atau perilaku yang sebenarnya.
d. Balikan Penampilan (Performance Feedback) adalah informasi yang menggambarkan seberapa jauh hasil yang diperoleh dari role playing. Bentuknya dapat berupa reward, reinforcement, kritik dan dorongan.
e. Alih Keterampilan (Transfers of Training).
Agar penguatan berlangsung efektif, perlu memperhatikan hal hal sebagai berikut:
a. Penguatan yang mana yang paling cocok dengan karakter masing-masing individu. Misalnya: material penguatan dapat berupa benda-benda seperti permen, uang, dan sebagainya.
b. Penguatan sosial (social reriforcement), seperti: pujian, penerimaan, dan sebagainya.
c. Penguatan sendiri (self reinforcement), yaitu evaluasi yang positif dari individu atas perilakunya sendiri. Misalnya rasa puas atas prestasi diri sendiri
B. Dimensi Pengembangan Perilaku pada Anak
Ada beberapa dimensi pengembangan perilaku pada anak, yaitu:
1. Pengembangan Perilaku Moral
Perilaku moral dapat diartikan cara pikir atau cara pandang seseorang yang akan tercermin dalam pola pikir dan pola tindak seperti dalam bersikap,berbicara atau mempersepsikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dimana anak berada.
Pengembangan perilaku moral dipengaruhi oleh:
a. Keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak.
b. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan sopan santun juga tentang aturan-aturan yang berlaku.
c. Masyarakat mempengaruhi dalam pembentukan kepribadian anak melalui cara pandang dan perlakuan terhadap anak.
Penanaman sopan santun, tata krama dan budi pekerti yang paling baik dan efektif dilakukan sedini mungkin sebab perwujudan dari jiwa yang telah berisi nilai moral akan berkembang bersama nilai-nilai lain yang akan dijadikan nilai sebagai pedoman dalam perilaku keseharian.
Pembelajaran Perilaku Moral dapat dilakukan, antara lain melalui:
a. Mulai dari hal-hal yang konkret
Pada mulanya pemahaman tentang nilai agama dan ketuhanan diperoleh melalui benda-benda konkret, karena anak belum dapat memahami konsep abstrak seperti Tuhan ada tetapi tidak terlihat olehnya. Untuk itu perlu bimbingan dari orangtua mulai dari kejadian yang langsung dapat dirasakannya, misalnya melalui cerita tentang hujan.
b. Ciptakan kesenangan
Sebaiknya jangan ada paksaan bagi anak dalam mempelajari perilaku keagamaan, sebab segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan berdampak positif. Sebaliknya, ciptakan kesenangan, suasana menarik setiap kali anak menjalankan berbagai ritual keagamaan. Misalnya, mengajak anak sholat bersama-sama, pergi ke sekolah minggu di gereja, berdoa sebelum makan dan tidur.
c. Pendidikan, pelatihan dan pembimbingan
Pembelajaran perilaku moral melalui pendidikan, pelatihan dan pembimbing-an dapat dilakukan melalui:
Keteladanan
Anak amat peka terhadap apa yang dia lihat, dengar dan rasakan di sekelilingnya, karena pada hakikatnya anak adalah manusia kecil yang senang meniru. Pendidik dan orang dewasa disekitar anak adalah contoh terbaik dalam pandangan anak, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya.
Adat kebiasaan
Kebiasaan yang dilakukan oleh pendidik merupakan hal yang sangat manjur bagi munculnya perilaku yang sama pada anak.
Nasihat
Nasehat dengan kata-kata yang lemah lembut dan penuh kasih sayang akan sangat mempengaruhi sikap anak yang cenderung menolak keingingan orangtuanya
Pemberian perhatian
Perhatian adalah suatu cara untuk mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan sikap beragama. Sebagai contoh perhatian terhadap kata-kata yang digunakan anak saat membalas salam, cara berpakaian yang sopan ataupun melarang ucapan yang berbohong.
2. Pengembangan Sikap dan Perilaku Beragama/Spiritual
Perilaku Sikap Beragama ditunjukkan oleh anak untuk dapat melakukan kebaikan atau menghindarkan pada keburukan sehingga anak kelak mampu memilih jalan yang dapat mengantarkannya kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia.
a. Tahapan Perkembangan Sikap dan Perilaku Beragama
Perkembangan sikap dan perilaku beragama anak melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
1) Tingkatan dongeng (The Fairy Tale Stage)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Penghayatan untuk konsep ke-Tuhanan berkembang sesuai dongeng tingkat perkembangan intelektualnya, artinya anak menanggapi agama masih menggunakan konsep fantasi yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
2) Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 7-15/16 tahun atau sejak anak masuk SD sampai usia remaja akhir (Adolesense). Pada tingkat ini ide anak tentang ke-Tuhanan sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada tingkatan (realis). Konsep tentang ke-Tuhanan muncul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pembelajaran ajaran dari orang dewasa lainnya.
3) Tingkat Individu (The Individual Stage)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan yaitu:
(1) Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
(2) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perseorangan).
(3) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti ideas concept on outhority (ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius), artinya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.
b. Bentuk dan sikap beragama pada anak
1) Tidak Mendalam (Unreflective)
Anak menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia. Ajaran agama mereka terima begitu saja tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima cukup sekedarnya saja, tidak perlu mendalam. Seringkali anak sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian ada beberapa anak yang memiliki ketajaman pikiran untuk mempertanyakan apa yang diajarkan pada mereka.
2) Egosentris
Konsep keagamaan dipandang dari kesenangan pribadinya, misalnya anak senang pergi ke rumah ibadah dengan orangtuanya karena sepulang dari sana biasanya orangtuanya mengajak mereka ke toko atau ke warung untuk membeli sesuatu yang anak sukai.
3) Anthromorphis
Melalui konsep-konsep yang terbentuk dalam pikiran dan daya fantasi anak, seringkali mereka menganggap bahwa perilaku dan keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Sebagai contoh, konsep tentang Tuhan itu maha melihat dimaknai oleh anak bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung ke rumah-rumah mereka layaknya orang mengintai.
4) Verbalis dan Ritualis
Kehidupan beragama pada anak sebagian besar terjadi melalui ungkapan verbal (ucapan). Mereka menghafal doa dan atau kalimat puji-pujian melalui ucapannya. Praktek keagamaan yang bersifat ritualis seperti sholat bersama keluarga di rumah merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan sikap beragama pada anak.
5) Imitatif
Sebagai peniru yang ulung anak mampu mewujudkan tingkah laku keagamaan (religius behaviour). Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak. Anak akan meniru semua perilaku keagamaan baik yang mereka dengar, lihat, rasakan dan lakukan oleh orang dewasa.
3. Pengembangan Perilaku Disiplin
Perilaku disiplin adalah kemampuan seorang anak untuk menyeimbangkan antara pola pikir & pola tindakan dikarenakan adanya situasi dan kondisi tertentu dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh lingkungan dimana individu berada.
Tujuan perilaku disiplin pada anak:
a. Secara umum: membentuk perilaku sedemikian hingga akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya atau tempat individu itu diidentifikasi.
b. Jangka pendek: Membuat anak terlatih dan terkontrol perilakunya dengan membelajarkan pada anak tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang masih baru / asing bagi mereka.
c. Jangka panjang: melatih pengendalian diri sendiri (self control and self direction) yaitu dalam hal mana anak-anak dapat mengendalikan diri sendiri tanpa terpengaruh dan pengendalian dari luar.
Beberapa alasan kedisiplinan perlu diterapkan pada anak, yaitu:
a. Mengontrol tingkah laku anak (mengatur diri sendiri).
b. Menjaga anak dari bahaya baik bagi dirinya ataupun orang lain.
c. Menghindarkan diri anak dari kesalahan pahaman.
d. Membuat anak disenangi karena dapat berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat dimana anak berada.
e. Menyadarkan anak anak bahwa ia mampu menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri dan diharuskan melakukan apa yang kita tentukan.
f. Melalui disiplin anak belajar bertingkah laku yang menimbulkan pujian, ia akan melihat ini sebagai indikasi dari cinta dan penerimaan .
g. Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani atau suara-suara halus didalam diri yang membantunya dalam membuat keputusan dan mengendalikan tingkah laku.
Penanaman disiplin mulai diterapkan pada anak
a. Sejak anak dilahirkan, melalui pembiasaan pemberian susu.
b. Disaat anak mulai mengenal lingkungan rumah dan sekitarnya.
Bentuk pendisiplinan pada anak TK
a. Disiplin pergi sekolah.
b. Disiplin di sekolah.
c. Disiplin merapikan mainan.
d. Disiplin memakai pakaian & sepatu.
e. Disiplin bangun tidur.
f. Disiplin waktu makan bersama.
4. Pengembangan Perilaku Emosional
Perilaku emosional merupakan bagian dari kecerdasan emosional yang melibatkan perasaaan dan emosi baik pada diri sendiri dan pada orang lain. Perilaku emosional ditunjukkan dengan kemampuan untuk memahami diri dan orang lain, mengungkapkan perasaan, mengendalikan amarah, sampai berempati pada orang lain.
Pentingnya pengembangan perilaku emosional, bagi anak usia TK
a. Sebagai bekal untuk mengatasi setiap persoalan yang penting dalam kehidupan.
b. Kecerdasan emosional perlu diajarkan di TK supaya anak-anak mempunyai peluang untuk memperoleh keterampilan yang akan membantu mereka menjadi lebih kebal terhadap tekanan-tekanan (depresi) dan atau gangguan emosional lainnya. Sampai akhirnya anak mampu mengendalikan dan mengelola emosinya secara baik.
Kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional:
a. Kemampuan mengenali emosi diri.
b. Kemampuan mengelola emosi.
c. Kemampuan motivasi diri.
d. Kemampuan mengenali emosi orang lain.
e. Kemampuan membina hubungan.
Pembentukan Kecerdasan emosional:
a. Emosi terbentuk selama proses pengasuhan.
b. Pengalaman awal seorang anak akan menjadi dasar bagi pengembangan emosional sepanjang hidupnya.
Ciri perilaku emosional pada anak TK, antara lain:
a. Lebih mudah bergaul.
b. Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa.
c. Mampu menahan tangis dan kecewa.
d. Menunjukkan rasa saying.
e. Minta di ceritakan dongeng dan di dendangkan lagu.
f. Mulai melatih kemandirian.
g. Mengenal sopan santun.
h. Antusias saat belajar.
i. Sabar menunggu giliran.
Nilai-nilai yang terdapat dalam emosi anak, antara lain:
• Kemarahan
• Malu
• Kesedihan
• Gembira
• Afeksi (kasih sayang)
• Takut
• Cemburu
• Anxiety (cemas)
• Empati
• Stress
Sumber :Depdiknas, Dirjen manajemen Pendidijan dasar dan menengah, Dir Pembinaan TK dan SD 2007
Disajikan oleh Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) di 19:13
PENGEMBANGAN AUD
Pengembangan Anak Usia Dini
Pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu upaya besar untuk mencapai cita-cita menyejahterakan bangsa seperti yang telah diamanatkan oleh UUD 1945. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut pembangunan bangsa dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan yang seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
Pada dokumen tersebut secara jelas memuat bahwa kemandirian sejatinya adalah hakekat kemerdekaan yang ditandai oleh antara lain tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan bangsa.
Pembangunan SDM Indonesia dilakukan dalam kerangka siklus hidup manusia yang dimulai dari dalam kandungan sampai lanjut usia. Untuk itu intervensi pelayanan sosial dasar perlu dilakukan sesuai dengan siklus tersebut. Salah satu tahap yang amat penting adalah tahap janin sampai anak masih berusia dini yaitu 0-6 tahun. Pada tahap ini tumbuh kembang anak berlangsung secara pesat dan bila anak dapat tumbuh kembang optimal, anak merupakan aset dan potensi yang di masa depan akan menyejahterakan bangsa. Oleh sebab itu pendekatan pelaksanaan pembangunan perlu menjadi peduli atau ramah bagi anak, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan terarustamakan ke dalam seluruh program pembangunan yang berkait.
Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia secara menyeluruh mencakup kesehatan dasar, gizi, dan pengembangan emosi serta intelektual anak perlu diperhatikan secara baik, karena amat menentukan perjalanan hidupnya.
Saat ini diperkirakan jumlah populasi anak berusia 0-6 tahun sekitar 27,6 juta. Secara absolut jumlah ini sangat besar terutama, jika dikaitkan dengan perlunya memastikan seluruh keluarga yang memiliki anak berusia 0-6 tahun dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh kembang secara optimal.
Fakta lapangan, penyelenggaraan, Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia sampai saat ini masih tersebar di sejumlah instansi yang terdiri dari Departemen Pendidikan Nasional dengan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pusat PPADU; Departemen Agama dengan Raudhatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA), dan Taman pendidikan Al-Quran; Departemen Kesehatan dengan Kegiatan Gizi Balita dan Imunisasi, dan Pelayanan Dasar serta bersama-sama dengan Departemen Dalam Negeri melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu); dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana dengan Bina Keluarga Balita (BKB). Sasaran penyelenggaraannya pun umumnya tumpang tindih yang terlibat dari TK dan RA yang mempunyai sasaran kelompok anak berusi 5-6 tahun. Sementara itu TPA kelompok sasarannya anak berusia 3 bulan sampai 4 tahun. Dalam Posyandu, kelompok sasarannya adalah anak berusia 0-6 tahun, sedangkan dalan BKB kelompok sasarannya adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-5 tahun, selain pelayanan langsung pada anaknya.
Dari uraian di atas ada lima permasalahan mendasar dalam Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, yaitu:
•
o sudah banyak program yang berkenaan dengan upaya Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia tetapi berbagai program tersebut masih perlu koordinasi dengan baik agar diperoleh tingkat efektifitas dan efisiensi;
o belum ada sistem kelembangaan dan ketenagaan yang memadai di bidang Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal sistem tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi;
o belum ada sistem advokasi dan desiminasi program pelayanan Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal sistem tersebut sangat diperlukan untuk membangun dukungan masyarakat dan menyebarluaskan ke seluruh masyarakat;
o belum ada pola dan sistem pendidikan informal masyarakat dalam Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal pola dan sistem tersebut diperlukan, karena merupakan bagian penting dari keseluruhan pembangunan manusia; dan
o tiap sektor yang berkenaan dengan program Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia memiliki program dan anggaran yang tidak terpadu, padahal keterpaduan program dan anggaran sangat diperlukan untuk meningkatkanb efektifitas dan efisiensi.
PERKEMBANGAN FISIK ANAK USIA DINI
Sebagai seorang anak dewasa, orang tua menantikan tonggak penting seperti belajar bagaimana untuk berguling dan merangkak. Masing-masing merupakan bagian dari proses perkembangan fisik. Proses pematangan terjadi secara teratur, yaitu kemampuan keterampilan tertentu dan umumnya terjadi sebelum mencapai tonggak lainnya.Sebagai contoh, kebanyakan bayi belajar merangkak sebelum mereka belajar berjalan. Namun, juga penting untuk menyadari bahwa tingkat di mana tonggak ini dicapai dapat bervariasi. Beberapa anak belajar berjalan lebih cepat dari teman sebaya mereka yang sama-usia, sementara yang lain mungkin diperlukan waktu sedikit lebih lama.
Pengembangan Keterampilan
Sebagai seorang anak tumbuh, sistem saraf-nya menjadi lebih matang. Karena ini terjadi, anak menjadi lebih dan lebih mampu melakukan tindakan yang semakin kompleks. Tingkat di mana keterampilan motorik muncul kadang-kadang merupakan kekhawatiran bagi orang tua. Pengasuh sering khawatir tentang apakah anak-anak mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan pada tingkat normal. Sebagaimana disebutkan di atas, harga mungkin agak berbeda. Namun, hampir semua anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan motorik ini pada tingkat yang cukup konsisten kecuali beberapa jenis kecacatan hadir.
Ada dua jenis keterampilan motorik:
• Bruto (atau besar) keterampilan motorik melibatkan otot-otot yang lebih besar termasuk lengan dan kaki. Tindakan yang membutuhkan keterampilan motorik kasar meliputi berjalan, berlari, keseimbangan dan koordinasi. Ketika mengevaluasi keterampilan motorik kasar, faktor-faktor yang termasuk ahli melihat kekuatan, otot, kualitas gerakan dan berbagai gerakan.
• Fine (atau kecil) keterampilan motorik melibatkan otot kecil di jari, jari kaki, mata dan daerah lainnya. Tindakan yang memerlukan keterampilan motorik halus cenderung lebih rumit, seperti menggambar, menulis, memegang benda, melempar, melambai dan penangkapan.
Pertumbuhan Fisik
Perkembangan fisik pada anak-anak mengikuti pola yang terarah:
• Otot besar berkembang sebelum otot kecil tangan. Otot tubuh dalam inti, kaki dan tangan berkembang sebelum mereka di jari dan.Anak-anak belajar bagaimana melakukan bruto (atau besar) keterampilan motorik seperti berjalan sebelum mereka belajar untuk melakukan denda (atau kecil) keterampilan motorik seperti menggambar.
• Pusat tubuh berkembang sebelum daerah luar. Otot terletak di inti tubuh menjadi lebih kuat dan mengembangkan lebih cepat dari yang di kaki dan tangan.
• Pembangunan berjalan dari atas ke bawah, dari kepala ke jari kaki. Inilah sebabnya mengapa bayi belajar untuk menahan kepala mereka sebelum mereka belajar cara merangkak.
Pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu upaya besar untuk mencapai cita-cita menyejahterakan bangsa seperti yang telah diamanatkan oleh UUD 1945. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut pembangunan bangsa dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan yang seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
Pada dokumen tersebut secara jelas memuat bahwa kemandirian sejatinya adalah hakekat kemerdekaan yang ditandai oleh antara lain tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan bangsa.
Pembangunan SDM Indonesia dilakukan dalam kerangka siklus hidup manusia yang dimulai dari dalam kandungan sampai lanjut usia. Untuk itu intervensi pelayanan sosial dasar perlu dilakukan sesuai dengan siklus tersebut. Salah satu tahap yang amat penting adalah tahap janin sampai anak masih berusia dini yaitu 0-6 tahun. Pada tahap ini tumbuh kembang anak berlangsung secara pesat dan bila anak dapat tumbuh kembang optimal, anak merupakan aset dan potensi yang di masa depan akan menyejahterakan bangsa. Oleh sebab itu pendekatan pelaksanaan pembangunan perlu menjadi peduli atau ramah bagi anak, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan terarustamakan ke dalam seluruh program pembangunan yang berkait.
Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia secara menyeluruh mencakup kesehatan dasar, gizi, dan pengembangan emosi serta intelektual anak perlu diperhatikan secara baik, karena amat menentukan perjalanan hidupnya.
Saat ini diperkirakan jumlah populasi anak berusia 0-6 tahun sekitar 27,6 juta. Secara absolut jumlah ini sangat besar terutama, jika dikaitkan dengan perlunya memastikan seluruh keluarga yang memiliki anak berusia 0-6 tahun dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh kembang secara optimal.
Fakta lapangan, penyelenggaraan, Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia sampai saat ini masih tersebar di sejumlah instansi yang terdiri dari Departemen Pendidikan Nasional dengan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pusat PPADU; Departemen Agama dengan Raudhatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA), dan Taman pendidikan Al-Quran; Departemen Kesehatan dengan Kegiatan Gizi Balita dan Imunisasi, dan Pelayanan Dasar serta bersama-sama dengan Departemen Dalam Negeri melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu); dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana dengan Bina Keluarga Balita (BKB). Sasaran penyelenggaraannya pun umumnya tumpang tindih yang terlibat dari TK dan RA yang mempunyai sasaran kelompok anak berusi 5-6 tahun. Sementara itu TPA kelompok sasarannya anak berusia 3 bulan sampai 4 tahun. Dalam Posyandu, kelompok sasarannya adalah anak berusia 0-6 tahun, sedangkan dalan BKB kelompok sasarannya adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-5 tahun, selain pelayanan langsung pada anaknya.
Dari uraian di atas ada lima permasalahan mendasar dalam Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, yaitu:
•
o sudah banyak program yang berkenaan dengan upaya Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia tetapi berbagai program tersebut masih perlu koordinasi dengan baik agar diperoleh tingkat efektifitas dan efisiensi;
o belum ada sistem kelembangaan dan ketenagaan yang memadai di bidang Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal sistem tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi;
o belum ada sistem advokasi dan desiminasi program pelayanan Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal sistem tersebut sangat diperlukan untuk membangun dukungan masyarakat dan menyebarluaskan ke seluruh masyarakat;
o belum ada pola dan sistem pendidikan informal masyarakat dalam Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia, padahal pola dan sistem tersebut diperlukan, karena merupakan bagian penting dari keseluruhan pembangunan manusia; dan
o tiap sektor yang berkenaan dengan program Pengasuhan dan Pengembangan Anak Dini Usia memiliki program dan anggaran yang tidak terpadu, padahal keterpaduan program dan anggaran sangat diperlukan untuk meningkatkanb efektifitas dan efisiensi.
PERKEMBANGAN FISIK ANAK USIA DINI
Sebagai seorang anak dewasa, orang tua menantikan tonggak penting seperti belajar bagaimana untuk berguling dan merangkak. Masing-masing merupakan bagian dari proses perkembangan fisik. Proses pematangan terjadi secara teratur, yaitu kemampuan keterampilan tertentu dan umumnya terjadi sebelum mencapai tonggak lainnya.Sebagai contoh, kebanyakan bayi belajar merangkak sebelum mereka belajar berjalan. Namun, juga penting untuk menyadari bahwa tingkat di mana tonggak ini dicapai dapat bervariasi. Beberapa anak belajar berjalan lebih cepat dari teman sebaya mereka yang sama-usia, sementara yang lain mungkin diperlukan waktu sedikit lebih lama.
Pengembangan Keterampilan
Sebagai seorang anak tumbuh, sistem saraf-nya menjadi lebih matang. Karena ini terjadi, anak menjadi lebih dan lebih mampu melakukan tindakan yang semakin kompleks. Tingkat di mana keterampilan motorik muncul kadang-kadang merupakan kekhawatiran bagi orang tua. Pengasuh sering khawatir tentang apakah anak-anak mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan pada tingkat normal. Sebagaimana disebutkan di atas, harga mungkin agak berbeda. Namun, hampir semua anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan motorik ini pada tingkat yang cukup konsisten kecuali beberapa jenis kecacatan hadir.
Ada dua jenis keterampilan motorik:
• Bruto (atau besar) keterampilan motorik melibatkan otot-otot yang lebih besar termasuk lengan dan kaki. Tindakan yang membutuhkan keterampilan motorik kasar meliputi berjalan, berlari, keseimbangan dan koordinasi. Ketika mengevaluasi keterampilan motorik kasar, faktor-faktor yang termasuk ahli melihat kekuatan, otot, kualitas gerakan dan berbagai gerakan.
• Fine (atau kecil) keterampilan motorik melibatkan otot kecil di jari, jari kaki, mata dan daerah lainnya. Tindakan yang memerlukan keterampilan motorik halus cenderung lebih rumit, seperti menggambar, menulis, memegang benda, melempar, melambai dan penangkapan.
Pertumbuhan Fisik
Perkembangan fisik pada anak-anak mengikuti pola yang terarah:
• Otot besar berkembang sebelum otot kecil tangan. Otot tubuh dalam inti, kaki dan tangan berkembang sebelum mereka di jari dan.Anak-anak belajar bagaimana melakukan bruto (atau besar) keterampilan motorik seperti berjalan sebelum mereka belajar untuk melakukan denda (atau kecil) keterampilan motorik seperti menggambar.
• Pusat tubuh berkembang sebelum daerah luar. Otot terletak di inti tubuh menjadi lebih kuat dan mengembangkan lebih cepat dari yang di kaki dan tangan.
• Pembangunan berjalan dari atas ke bawah, dari kepala ke jari kaki. Inilah sebabnya mengapa bayi belajar untuk menahan kepala mereka sebelum mereka belajar cara merangkak.
METODE AJAR PAUD
Standar, Model, Bahan Ajar PAUD Formal dan Nonformal
Salah satu Tugas, Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Pusat Kurikulum adalah melaksanakan Pengembangan bahan ajar dan Standar Kompetensi PAUD Formal dan NonFormal, Standar Isi dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar. Salah satu yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut adalah melakukan kajian kurikulum dari berbagai mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan standar dan bahan ajar Paud Formal dan NonFormal kurikulum yang menjadi tanggung jawab Pusat Kurikulum.
Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang utamanya adalah standar dan bahan ajar kurikulum mata pelajaran pendidikan dasar. Kegiatan di awali dengan penyusunan desain untuk menetapkan fokus pengembangan, selanjutnya melakukan kajian dokumen Standar Isi, pengembangan pelaksanaan standar isi, diskusi hasil pengembangan dokumen standar isi, diskusi hasil kajian pelaksanaan stadar isi, Studi dokumentasi standar isi, analisis data hasil kajian, penyusunan hasil pengembangan bahan ajar silabus, presentasi hasil pengembangan dan penyusunan laporan
Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini merupakan seperangkat kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh anak sesuai dengan tahapan usianya. Standar ini dikembangkan berdasarkan aspek perkembangan anak, yang meliputi:
1. Perkembangan moral dan nilai-nilai agama
2. Perkembangan sosial, emosional dan kemandirian
3. Perkembangan bahasa
4. Perkembangan kognitif
5. Perkembangan fisik/motorik
6. Perkembangan seni
Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dini didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak.
Salah satu penyebab utama dalam kesalahan mendidik adalah banyak para orangtua dan guru yang kurang menyadari cara-cara mendidik yang patut. Pada awal tahun 80-an mulai bermunculan berbagai kritikan terhadap kurikulum yang dianggap telah mematikan semangat dan kecintaan anak untuk belajar. National Association for the Young Children (NAEYC) sebuah organisasi yang muncul pada tahun 1980-an di AS merupakan gerakan yang berusaha mematut terhadap berbagai miskonsepsi dalam dunia pendidikan anak usia dini. Di sini berhimpun para pakar pendidik anak usia dini, dimotori Sue Bredekamp membuat petisi melalui “konsep DAP”. Terjemahan bebas konsep DAP (Developmentally Approriate Practice) merupakan pendidikan yang patut berorientasi tahap perkembangan anak. Setiap anak yang berusia 0-8 tahun memiliki pola perkembangan yang dapat diprediksi sehingga memudahkan dalam upaya memberikan pelayanan pendidikannya.
Penerapan konsep DAP dalam pendidikan anak usia dini memungkinkan para pendidik melayani anak sebagai individu yang utuh (The Whole Child), yang melibatkan empat komponen dasar yang dimiliki anak, yaitu Pengetahuan, Ketrampilan, Sifat Alamiah, dan Perasaan yang bekerja secara bersamaan dan saling berhubungan. Oleh karena itu jika sistem pembelajaran dapat melibatkan semua aspek ini secara bersamaan maka perkembangan kepribadian anak akan tumbuh secara berkelanjutan.
Hasil studi para pendukung DAP, metode ini memberikan lingkungan belajar yang senantiasa mendorong anak bereksplorasi, kreatif, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar. Dampak terhadap perkembangan sosial-emosi menunjukkan bahwa anak usia dini yang dilayani dengan metode DAP mempunyai tingkat stress yang rendah dibandingkan anak-anak yang dilayani tanpa metode DAP. Sebuah studi lain juga melaporkan bahwa anak-anak usia dini yang berada dalam kelas non DAP memiliki tekanan dalam proses pendidikan karena mereka senantiasa diminta mengisi lembar kerta kerja yang kurang patut dan kurang menyenangkan anak.
Selengkapnya silahkan unduh dokumen Model bahan ajar PAUD Formal, Model Bahan Ajar Paud Nonformal, Model Bahan Ajar Cetak Realia, Naskah Akademik PAUD Formal dan Nonformal, Standar isi PAUD Formal dan Nonformal, Kerangka dasar PAUD Formal dan Nonformal, Silabus PAUD Formal dan Non Formal, Standar Bahan Ajar PAUD Formal dan Nonformal.
http://www.bintangbangsaku.com
Salah satu Tugas, Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Pusat Kurikulum adalah melaksanakan Pengembangan bahan ajar dan Standar Kompetensi PAUD Formal dan NonFormal, Standar Isi dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar. Salah satu yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut adalah melakukan kajian kurikulum dari berbagai mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan standar dan bahan ajar Paud Formal dan NonFormal kurikulum yang menjadi tanggung jawab Pusat Kurikulum.
Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang utamanya adalah standar dan bahan ajar kurikulum mata pelajaran pendidikan dasar. Kegiatan di awali dengan penyusunan desain untuk menetapkan fokus pengembangan, selanjutnya melakukan kajian dokumen Standar Isi, pengembangan pelaksanaan standar isi, diskusi hasil pengembangan dokumen standar isi, diskusi hasil kajian pelaksanaan stadar isi, Studi dokumentasi standar isi, analisis data hasil kajian, penyusunan hasil pengembangan bahan ajar silabus, presentasi hasil pengembangan dan penyusunan laporan
Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini merupakan seperangkat kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh anak sesuai dengan tahapan usianya. Standar ini dikembangkan berdasarkan aspek perkembangan anak, yang meliputi:
1. Perkembangan moral dan nilai-nilai agama
2. Perkembangan sosial, emosional dan kemandirian
3. Perkembangan bahasa
4. Perkembangan kognitif
5. Perkembangan fisik/motorik
6. Perkembangan seni
Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dini didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak.
Salah satu penyebab utama dalam kesalahan mendidik adalah banyak para orangtua dan guru yang kurang menyadari cara-cara mendidik yang patut. Pada awal tahun 80-an mulai bermunculan berbagai kritikan terhadap kurikulum yang dianggap telah mematikan semangat dan kecintaan anak untuk belajar. National Association for the Young Children (NAEYC) sebuah organisasi yang muncul pada tahun 1980-an di AS merupakan gerakan yang berusaha mematut terhadap berbagai miskonsepsi dalam dunia pendidikan anak usia dini. Di sini berhimpun para pakar pendidik anak usia dini, dimotori Sue Bredekamp membuat petisi melalui “konsep DAP”. Terjemahan bebas konsep DAP (Developmentally Approriate Practice) merupakan pendidikan yang patut berorientasi tahap perkembangan anak. Setiap anak yang berusia 0-8 tahun memiliki pola perkembangan yang dapat diprediksi sehingga memudahkan dalam upaya memberikan pelayanan pendidikannya.
Penerapan konsep DAP dalam pendidikan anak usia dini memungkinkan para pendidik melayani anak sebagai individu yang utuh (The Whole Child), yang melibatkan empat komponen dasar yang dimiliki anak, yaitu Pengetahuan, Ketrampilan, Sifat Alamiah, dan Perasaan yang bekerja secara bersamaan dan saling berhubungan. Oleh karena itu jika sistem pembelajaran dapat melibatkan semua aspek ini secara bersamaan maka perkembangan kepribadian anak akan tumbuh secara berkelanjutan.
Hasil studi para pendukung DAP, metode ini memberikan lingkungan belajar yang senantiasa mendorong anak bereksplorasi, kreatif, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar. Dampak terhadap perkembangan sosial-emosi menunjukkan bahwa anak usia dini yang dilayani dengan metode DAP mempunyai tingkat stress yang rendah dibandingkan anak-anak yang dilayani tanpa metode DAP. Sebuah studi lain juga melaporkan bahwa anak-anak usia dini yang berada dalam kelas non DAP memiliki tekanan dalam proses pendidikan karena mereka senantiasa diminta mengisi lembar kerta kerja yang kurang patut dan kurang menyenangkan anak.
Selengkapnya silahkan unduh dokumen Model bahan ajar PAUD Formal, Model Bahan Ajar Paud Nonformal, Model Bahan Ajar Cetak Realia, Naskah Akademik PAUD Formal dan Nonformal, Standar isi PAUD Formal dan Nonformal, Kerangka dasar PAUD Formal dan Nonformal, Silabus PAUD Formal dan Non Formal, Standar Bahan Ajar PAUD Formal dan Nonformal.
http://www.bintangbangsaku.com
HAKEKAT ANAK USIA DINI
BAB I
PENDAHULUANA. Latar Belakang
Memasuki milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.
Pendidikan merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Pada hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia emas).
Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
B. Tujuan
Tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
C. Sasaran
Sasaran kerangka dasar ini adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD yang sejenis.
D. Ruang Lingkup Penulisan
Kerangka dasar ini terdiri dari bab I Pendahuluan, bab II Landasan Pendidikan Anak Usai dini, bab III. Hakikat Pendidikan Anak Usai Dini, bab IV Standar Kompetensi Anak Usia Dini, bab V Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, bab VI Penilaian Kurikulum, dan bab. VII Penutup.
BAB II
LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Landasan Yuridis
1. Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
2. Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.
3. Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.”
B. Landasan Filosofis
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.
Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Melalui pendidikan yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tahu akan hak dan kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan, tolong menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni sebagai bangsa yang bermartabat.
Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.
C. Landasan Keilmuan
Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dinii didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983), ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.
Jean Piaget (1972) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.” Sementara Lev Vigostsky meyakini bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya. Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan logiko matematik, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musik.
Dengan demikian perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak, sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini sangat diperlukan.
BAB III
HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
1. Pengertian
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
2. Tujuan
Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.
b. Belajar melalui bermain
Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
c. Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
d. Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.
e. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.
f. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.
g. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan yang berluang .
BAB IV
STANDAR KOMPETENSI ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.
B. Standar Kompetensi Anak Usia Dini
Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut: a. Moral dan nilai-nilai agama, b. Sosial, emosional, dan kemandirian, c. Bahasa, d. Kognitif, e. Fisik/Motorik, dan f. Seni.
BAB V
PENGEMBANGAN KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
B. Prinsip-prinsip Pengembangan
1. Bersifat komperhensif
Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan .
2. Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap.
Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.
3. Melibatkan orang tua
Keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak. Oleh karena itu peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan.
4. Melayani kebutuhan individu anak.
Kurikulum dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan,minat setiap anak.
5. Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat
Kurikulum harus memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.
6. Mengembangkan standar kompetensi anak
Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar Kompetensi seabagi acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak.
7. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus
Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memperhatikan semua anak termasuk anak-anak yang berkebutuhan khususus.
8. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat
Kurikulum hendaknya dapat menunjukkan bagaimana membangun sinegi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai
9.Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak
Kurikulum yang dibangun hendaknya memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada disekolah
10.Menjabarkan prosedur pengelolaan Lembaga
Kurikulum hendaknya dapat menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen/pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabiitas.
11. Manajemen Sumber Daya Manusia
Kurikulum hendaknya dapat menggamabarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga
12.Penyediaan Sarana dan Prasarana.
Kurikulum dapat menggambarkan penyediaan srana dan prasaran yang dimiliki lembaga.
C. Komponen Kurikulum
a. Anak
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia
Pendahuluan
Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).Penyelenggaraan pendidikan pada anak usia dini di negara maju telah berlangsung lama sebagai bentuk pendidikan yang berbasis masyarakat (community based education), akan tetapi gerakan untuk menggalakkan pendidikan ini di Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan akan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini dalam menyiapkan manusia Indonesia seutuhnya (MANIS), serta membangun masa depan anak-anak dan masyarakat Indonesia seluruhnya (MASIS). Namun sejauh ini jangkauan pendidikan anak usia dini masih terbatas dari segi jumlah maupun aksesibilitasnya. Misalnya, penitipan anak dan kelompok bermain masih terkonsentrasi di kota-kota. Padahal bila dilihat dari tingkat kebutuhannya akan perlakuan sejak dini, anak-anak usia dini di pedesaan dan dari keluarga miskin jauh lebih tinggi guna mengimbangi miskinnya rangsangan intelektual, sosial, dan moral dari keluarga dan orang tua.Pemerintah telah menunjukkan kemauan politiknya dalam membangunan sumber daya manusia sejak dini. Seperti disampaikan Ibu Megawati (wakil presiden pada saat itu) saat membuka Konferensi Pusat I Masa Bakti VII Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia. Beliau menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini dalam konsep pembinaan dan pengembangan anak dihubungkan pembentukan karakter manusia seutuhnya. Lebih jauh lagi beliau menyatakan sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan bagi anak di usia dini merupakan basis penentu pembentukan karakter manusia Indonesia di dalam kehidupan berbangsa.Pernyataan ini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting bagi kelangsungan bangsa, dan perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden age).2.1 Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.Saat ini bidang ilmu pendidikan, psikologi, kedokteran, psikiatri, berkembang dengan sangat pesat. Keadaan itu telah membuka wawasan baru terhadap pemahaman mengenai anak dan mengubah cara perawatan dan pendidikan anak. Setiap anak mempunyai banyak bentuk kecerdasan (Multiple Intelligences) yang menurut Howard Gardner terdapat delapan domain kecerdasan atau intelegensi yang dimiliki semua orang, termasuk anak. Kedelapan domain itu yaitu inteligensi music, kinestetik tubuh, logika matematik, linguistik (verbal), spasial, naturalis, interpersonal dan intrapersonal.Multiple Intelligences ini perlu digali dan ditumbuh kembangkan dengan cara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan secara optimal potensi-potensi yang dimiliki atas upayanya sendiri (Tientje, 2000).
2.2 Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Membangun Masa Depan Bangsa
Kondisi SDM Indonesia berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh PERC (Political and Economic Risk Consultancy) pada bulan Maret 2002 menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12, terbawah di kawasan ASEAN yaitu setingkat di bawah Vietnam. Rendahnya kualtias hasil pendidikan ini berdampak terhadap rendahnya kualtias sumber daya manusia Indonesia.Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber daya manusia yang dilaksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan sebagainya, dimulai dengan pengembangan anak usia dini yang mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh dan dilaksanakan secara terpadu. Pemahaman pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah dilakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, termasuk negara industry Korea Selatan. Bahkan pelayanan pendidikan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.Di Indonesia pelaksanaan PAUD masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah dilaksanakan di Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa dari sekitar 26,2 jut anak usia 0-6 tahun yang telah memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5 juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5%), Taman Kanak-kanak (6,1%), Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui penitipan anak dan kelompok bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu sekitar 1% dan 0,24%.
Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumla lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah ditempuh selama ini ternyata belum memberikan layanan secara utuh, belum bersinergi dan belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi. Padahal ketiga aspek tersebut sangat menentukan tingkat intelektualitas, kecerdasan dan tumbuh kembang anak.Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung, Indonesia sebagai salah satu anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini.Perhatian dunia internasional terhadap urgensi pendidikan anak usia dini diperkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang otak. Pada saat bayi dilahirkan ia sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi yang baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini akan memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir, dan pembentukan stabilitas emosional.Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, (4) menolong para orang tua dan anak-anak.Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.
2.3 Perkembangan Anak Usia Dini
Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa memberikan pendidikan anak usia dini cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain itu juga mereka menganggap PAUD tidak memerlukan profesionalisme. Pandangn tersebut adalah keliru.Jika PAUD ingin dilakukan di rumah oleh ibu-ibu sendiri, maka ibu-ibu itu perlu belajar dan menambah pengetahuan tentang proses pembelajaran anak, misalnya dengan membaca buku, mengikuti ceramah atau seminar tentang PAUD.Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, oleh karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut memahami proses tumbuh kembang anak.Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.
Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak bisa juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu karena orangtua bekerja di luar rumah.Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat skalanya.
2.4 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap atau tidak untuk menjadi orang tua. Memiliki anak, siap atau tidak, mengubah banyak hal dalam kehidupan, dan pada akhirnya mau atau tidak kita dituntut untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.Mengenal, mengetahui, memahami dunia anak memang bukan sesuatu yang mudah. Dunia yang penuh warna-warni, dunia yang segalanya indah, mudah, ceria, penuh cinta, penuh keajaiban dan penuh kejutan. Dunia yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak anak namun dalam kepemilikanya banyak bergantung pada peranan orang tua.Para ahli sependapat bahwa peranan orang tua begitu besar dalam membantu anak-anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Ini berarti bahwa jika berbicara tentang gerbang kehidupan mereka, maka akan membicarakan prospek kehidupan mereka 20-25 tahun mendatang. Pada tahun itulah mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Masuk ke dalam kemandirian penuh, masuk ke dalam dunia mereka yang independen yang sudah seharusnya terlepas penuh dari orang tua dimana keputusan-keputusan hidup mereka sudah harus dapat dilakukan sendiri. Disinilah peranan orang tua sudah sangat berkurang dan sebagai orang tua, pada saat itu kita hanya dapat melihat buah hasil didikan kita sekarang, tanpa dapat melakukan perubahan apapun.Mengapa orang tua perlu meningkatkan intelektualitas anak demi mempersiapkan mereka masuk sekolah? Jawabannya, sekolah saat ini meminta persyaratan yang cukup tinggi dari kualitas seorang siswa. Masih didapat siswa yang masuk SD sudah diperkenalkan dengan berbagai macam pelajaran dan ilmu sejak dini. Anak-anak sudah harus memiliki kreativitas yang tinggi sejak kecil. Oleh sebab itu, anak-anak yang memiliki intelektualitas yang tinggi akan lebih mudah menerima dengan baik semua yang diajarkan. Mereka akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, lebih mudah menerima hal-hal yang baru, atau intelektualitas anak bisa dikembangkan jauh sebelum mereka masuk ke sekolah. Kondisi seperti itulah yang menempatkan orang tua sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam program pendidikan informal yang terjadi di lingkungan keluarga.
2.5 Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini
Memasuki abad XXI dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Pertama, sebagai akibat dari multi krisis yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian system pendidikan nasional, sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keragaman potensi, kebutuhan daerah, peserta didik, dan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.Permasalahannya adalah ketidaksiapan bangsa Indonesia menghadapi ketiga tantangan di atas, disebabkan rendahnya mutu sumber daya manusianya. Untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan upaya serius melalui pendidikan sejak dini yang mampu meletakkan dasar-dasar pemberdayaan manusia agar memiliki kesadaran akan potensi diri dan dapat mengembangkannya bagi kebutuhan diri, masyarakat dan bangsa sehingga dapat membentuk masyarakat madani. Pendidikan anak usia dini merupakan hal paling mendasar yang dilakukan sedini mungkin dan dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Menyeluruh, artinya layanan yang diberikan kepada anak mencakup layanan pendidikan, kesehatan dan gizi. Terpadu mengandung arti layanan tidak saja diberikan pada anak usia dini, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat sebagai satu kesatuan layanan.
Sumber:
CHA, Wahyudi dan Damayanti, Dwi Retna. 2005. Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam. Jakarta: Grasindo.
Isjoni. 2007. Saatnya Pendidikan Kita Bangkit. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Anwar dan Ahmad, Arsyad. 2007. Pendidikan Anak Dini Usia. Bandung: Alfabeta.
Tientje, Nurlaila N.Q. Mei dan Iskandar, Yul. 2004. Pendidikan Anak Dini Usia Untuk Mengembangkan Multipel Inteligensi. Jakarta: Dharma Graha Group.
Indrawati, Maya dan Nugroho, Wido. 2006. Mendidik dan Membesarkan Anak Usia Pra-Sekolah. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Asfandiyar, Andi Yudha. 2009. Kenapa Guru Harus Kreatif?. Jakarta: Mizan Media Utama.
http://paud-usia-dini.blogspot.com/2008/06/pengasuhan-anak.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini
Langganan:
Postingan (Atom)

